Sunday, June 29, 2008

Tamri, Namanya

Berharap mendapatkan kesenangan seolah berpiknik, sama sekali tak terbersit dalam benakku. Kalau saja isteriku tidak merajuk untuk ikut serta dibumbui tatapan memelasnya-yang selama ini selalu sukses membuatku takluk untuk meluluskan segala keinginannya- tentunya aku tidak akan mengajak ia untuk mengambil data guna keperluan risetku. Kekhawatiranku bukan tanpa alasan, karena usia kandungan isteriku kini memasuki 5 bulan.

Seperti dugaanku, pagi itu begitu terik. Dan untuk topografi daerah kritis nan tandus rasanya tidak begitu mengherankan tidak ada satu pun pepohonan yang bisa dimanfaatkan untuk berteduh di lokasi objek risetku.

Satu hal yang membuatku tetap bersemangat: keceriaan isteriku. Tidak dihiraukannya sengatan matahari yang begitu terik. Berpayung, dan ngemil sebanyak-banyaknya bekal yang kami bawa, isteriku terlihat begitu lucu. Ia dengan mudahnya mengesampingkan kondisi yang tidak nyaman itu, seolah sedang plesir di pantai Kuta.

Namun kelegaan itu tidak berlangsung lama.Semakin siang, suhu udara semakin ttinggi, hal yang tidak teramat sulit untuk lekas menghapus keceriaan dari wajah isteriku.

Di tengah kebingunganku, seorang lelaki yang sejak tadi sepertinya memperhatikan kami dari tempatnya yang tidak jauh dari objek risetku, begitu ramah menawarkan tempat berteduh sembari mempersilahkan kami untuk istirahat di kursi malasnya yang terbuat dari bambu.

Tamri nama lelaki itu, namun ia lebih akrab disapa Ambon karena rambut kriwilnya ditambah kulitnya yang legam, fisiologi khas saudara-saudara kita dari Indonesia Timur. Di tempat itu ia tinggal di sebuah bekas box kontainer yang ia manfaatkan untuk kamar. Ia bekerja sebagai buruh angkut sekaligus penjaga gudang sebuah perusahaan pasir besi.

Sejenak mengobrol dengan mas Tamri, kesan yang muncul adalah bahwa pria ini baik hati, sopan dan ramah. Satu-satunya alasan yang membuat isteriku takut awal mulanya dengan mas Tamri karena sekujur kedua lengannya yang berhias tato.

Kami begitu akrab, kendala bahasa Mas Tamri yang terbata-bata berbahasa Indonesia, tidak menghalangi suasana cair diskusi kami. Dari diskusi pula aku mengetahui keluarga dia, impiannya sekaligus sejarahnya hingga ia terdampar di Surabaya.

Ia seorang yatim-piatu, satu-satunya saudaranya hanyalah kakaknya yang sekarang tinggal di kota Darwin- Australia. Kakaknya menikah dengan wanita setempat yang menjadikannya berganti kewarganegaraan dan akhirnya berprofesi sebagai anggota angkatan darat negeri kanguru tersebut.

Mas Tamri sudah berkali-kali ditawari untuk tinggal di Australia oleh kakaknya, namun ia dengan halus menolaknya. Hal yang membuatku terkesan, alasan penolakan itu: ia ingin berjuang hidup untuk dirinya, tanpa bergantung orang lain.

Satu lagi kekagumanku: di tengah kesibukannya menunaikan amanah kerja yang cukup berat, ia tidak lalai untuk menunaikan sholat, ia seorang muslim. Kontras sekali dengan stigma orang bertato dan buruh kasar bukan?

Ya, dan senyum manis mas Tamri membayang, ditingkah lirih tutur isteriku " banyak orang baik, Mas"



Tambak Garam di Pesisir Gresik, Juni'08

Mertuaku, Guruku

Udara siang itu cukup terik, di ruangan yang tak berpendingin tersebut, keringat dingin membasahi tubuhku. Lidahku seakan kelu, diskusi dua keluarga yang sedang menentukan kesepakatan untuk waktu pernikahan kami, tidak begitu kuikuti sepenuhnya, entah saat itu aku berfikir apa. Aku hanya merasakan kepanikan yang luar biasa membayangkan jika kemudian hasil dari pertemuan itu nantinya memperlama prosesi ikatan suci itu dilakukan.

Ketakutan yang aku kira cukup beralasan, ketika menyaksikan tidak bertemunya 2 pendapat yang berbeda tentang penentuan hari, yang satu berkeinginan untuk dipercepat dengan alasan menghindari fitnah sedangkan yang lainnya berkeinginan agar prosesi ini memiliki waktu yang cukup matang untuk dipersiapkan. Dan untuk beberapa waktu kedua pendapat ini belum bisa berkompromi.

Hingga kebuntuan pun akhirnya terpecahkan saat dengan tegas bapak mertuaku saat itu berujar, " Bapak-ibu sekalian, esensi kebahagiaan itu sejatinya adalah ketentraman, dan ketentraman merupakan buah dari sikap ke-cukupan kita.Sekiranya kemampuan maksimal kita hanya bisa mengisi setengah gelas, maka lebih kalau kemudian kita tidak "neko-neko" memenuhi gelas tersebut, jadi saya kira tidak ada alasan untuk mengulur prosesi sakral ini".

Kalimat ajaib inilah yang kemudian membuat acara khitbah itu pun kemudian menetapkan Jum'at, 14 Desember 2007 sebagai waktu untuk menggenapkan separuh agama kami, 26 hari setelah proses khitbah, waktu yang tergolong supercepat bagi keluargaku, bahkan di luar bayanganku.

Barangkali untuk beberapa orang -bahkan mungkin aku- kalimat itu tidak sepenuhnya benar, namun kesahajaan dan simplifikasi masalah mertuaku membuatku harus mengacungi jempol kepada beliau.

Dan kekagumanku ini kemudian semakin bertambah, setelah melihat keseharian beliau. Lelaki yang hampir seluruh rambutnya telah memutih ini, sangat sederhana, pekerja keras, dan begitu bijak dalam memandang kehidupan. Hampir setiap kami ngobrol berdua, begitu banyak kekaguman membuncah di benakku mendengar tutur nasehatnya.

Beliaulah yang dengan segala kelapangan hati, mau menerima lelaki biasa yang penuh keterbatasan ini untuk menjadikan putrinya belahan hidup.

Lelaki paruh baya inilah yang sering menguatkan menantunya untuk bertahan dengan prinsip hidup yang diyakini, tanpa harus terpengaruh dengan hiruk pikuk apa kata orang.menjadi manusia merdeka, terbebas dari lingkaran caci dan puji.

Dan tidak teramat sulit bagiku untuk memajang sosok beliau dalam dinding jiwaku, menambah deretan panjang orang - orang yang aku begitu menyukai untuk memandang lekat - lekat wajahnya, orang - orang yang menjadi guru bagiku.

Terima kasih bapak, Terima kasih atas bidadari yang telah engkau percayakan kepadaku, betapapun aku bukan lelaki mulia....

Segala Puji Syukur Bagi-Mu, Duhai Tuhanku.....

Salatiga, Pukul 00.00 Tahun 2008

Catatan Seorang Suami

Menjadi suami? Hal yang dahulu begitu kuimpikan. Entahlah rasa apa yang sedang menggelegak dalam jiwa. Namun kerinduan untuk segera bertemu dengan pasangan jiwaku seolah sudah melebihi kadar kemampuan seorang lajang untuk bertahan. Dan kini aku hadir sebagai seorang suami, impian yang mewujud, ya aku kini bersanding dengan seorang bidadari.

Kemudian kini hidupku sedang penuh diliputi kejutan-kejutan. Kehidupan yang semula kupahami (seolah) sebagai kebebasan tanpa batas, kini harus benar-benar menyadari, ada hati yang harus dijaga, ada benih cinta yang harus senantiasa disemai, dipupuk dan dijaga pertumbuhannya di ladang jiwa.

Hadir sebagai seorang suami, menuntut diri untuk senantiasa menghadirkan dan membaluri pasangan kita dengan kebahagiaan, karena kebahagiaan terbesar seorang suami barangkali bukan sekedar terpenuhinya langit-langit harapan, namun melihat senyum manis bidadari kita terukir di wajahnya senatiasa adalah penghapus segala lara.

Di sinilah uniknya, cinta dan keinginan untuk memborong kebahagiaan untuknya terkadang menjadi semacam pintu untuk menyakitinya. Ironi? Barangkali bisa dibilang begitu, tapi bukankah memang itu hal wajar yang terjadi sebagai efek relasi dua orang insan berbeda yang belum pernah mengenal sebelumnya, dua presepsi tentang bahagia yang belum bersua.

Ya, kami hadir dalam keragaman, banyak warna, menyulamnya dengan benang cinta. Dan saat ini diperlukan tingkat kedewasaan yang begitu rupa untuk menahan diri menuntut pasangan kita seperti yang kita inginkan. Karena betapa pun ia tetap adalah dirinya, apa yang lebih menyakitkan dari keterpaksaan untuk menjadi orang lain bukan?

Ini hanya masalah waktu, aku menyakininya. Dan tidak diperlukan rumusan-rumusan sikap, aku kini ingin mengalir, sebisa yang kubisa, aku akan selalu ingin membuatnya tersenyum, biarlah hanya Tuhan yang Tahu betapa aku begitu mencintainya, karena mencintai adalah bentuk ibadahku kepada-Nya. Dan aku bukan pedagang kelontong yang selalu memaknai setiap memberi harus menerima, hidup terlalu sempit untuk selalu dimaknai sebagai transaksi rugi - laba.

Apakah mencintai dan berusaha menjadi baik, modal yang cukup untuk menjadi suami? Biarkan realitas yang menjawabnya, satu tekadku: mencintainya hingga ujung waktuku, cukup bagiku.


Rumah Cinta, Maret 2008
"Terima kasih, telah menemaniku"

Tuesday, August 21, 2007

Jerat - Jerat Intelektualitas

Moment bercerainya ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai etik adalah sejak apa yang disebut sebagai masa renaisance, gerakan yang mengusung isu besar netralitas etik (sterilisasi nilai) di semua ranah kehidupan manusia.

Ia merupakan bom waktu yang merupakan akumulasi traumatik publik "barat" akan tirani kaum rohaniawan setelah melalui fase panjang bernama "era kegelapan" (dark age). Phobia yang disebabkan peran para rahib yang begitu luas hingga seolah mereka merupakan "tuhan-tuhan kecil" di bumi. Dan seperti yang sering terjadi, kekuasaan selalu memancing wajah paling primitif manusia : penindasan.

Namun pada fase berikutnya, ketika ilmu pengetahuan dianggap kosong akan nilai, maka motif manusia kemudian menggeser fungsi ilmu pengetahuan sebagai alat untuk me-legitimasi ataupun men-delegitimasi sesuatu, pihak penengah berjuluk "ilmiah".

Tidak terkecuali kaum agamawan, yang mencoba begitu bernafsu untuk membuat rujuk (kembali) antara agama - ilmu pengetahuan yang lama "tidak akur". Maka kemudian ada begitu banyak dalil yang diseret-seret untuk disesuaikan dengan ilmu pengetahuan, bukan sebaliknya, barangkali itu merupakan buah pemikiran bahwasanya agama merupakan representasi patronase yang dogmatis (ortodok) sementara ilmu pengetahuan mewakili nilai kontemporer(modernitas), sedangkan di alam kekinian sesuatu yang usang dan kolot (biasanya) menjadi sesuatu yang memuakan.

Saat ini, ilmu pengetahuan dianggap segalanya, menafikan kelemahan daya tangkap inderawi manusia yang terbatasi domain spacial (ruang) dan temporal (waktu). Ilmu pengetahuan telah mampu memapah manusia untuk diam-diam maupun secara gamblang menyatakan betapa berkuasanya ia. Tidak mengherankan, karena sejak Fir'aun mengaku sebagai Tuhan pun, ada peran Haman sang insinyur, "cendikiawan" dibalik kisah tragis sang raja.

Satu lagi, kesadaran manusia dalam memperoleh metode baku untuk memformulasikan fenomena untuk kemudian mendapatkan ekstrak bernama ilmu pengetahuan -pada kadar tertentu- telah mejadikan manusia menjadi makhluk yang sangat formalis, birokratis, institusional.

Cendikiawan bukan lagi ia yang memeras dan memamah serpihan-serpihan hikmah hingga menjadikannya manusia bijak, namun ia diukur dari sebera papanjang title yang mengikuti namanya.

Pengetahuan bukan lagi kesadaran terus menerus memelototi setiap fragmen kehidupan, namun ia menjadi terbatasi di tembok nan kukuh bernama sekolah.

Dan budaya materialisme membuat ilmu pengetahuan menjadi sesuatu yang begitu mahal dan memperkecil probabilitas orang-orang yang berhak diakui oleh publik sebagai kaum cendikia.

Pun juga menjadikan kebijaksanaan bukan merupakan orientasi pengetahuan, namun bagaimana ilmu pengetahuan menjadi alat pemuas kebutuhan bernama "status sosial".


Bandung, 20 Agustus'07

Wednesday, August 15, 2007

Aku Malu....

Malam ini, adalah sisa -sisa tenaga yang kumiliki setelah baru saja aku tiba dari melakukan perjalanan dinas kantor selama beberapa hari di luarkota.

Aku memaksakan diri untuk menuliskan risalah ini berharap ada orang-selain aku- yang kemudian mampu memamah serpihan hikmahnya.

Cerita ini berawal dari sebuah sms yang cukup mengagetkanku kala itu, saat aku baru saja tiba di bandara Soekarno Hatta - Jakarta, bunyi sms-nya (dengan sedikit perubahan redaksi ) :"Salam, akh saya ingin berpartisipasi di LSM antum, rekening antum? " dari nomor 081XXXXXXX

Sebut saja nama pengirim sms ini ukhti fulanah.

Ya, itu adalah awal sms seseorang yang pada saat aku aktif di beberapa kegiatan kampus tidak pernah mengenalnya,termasuk mendengar namanya.

Saatini beliau sedang bekerja di jakarta. Dan cerita pun berlanjut,hanya sekitar 2 kali kami saling berkirim sms, hingga suatu pagi, aku terhenyak saat membaca email dengan subjek :"penawaran" .

Masih oleh orang yang sama, dimana dalam email itu beliau menawarkan satu diantara tiga lokasi ( tanah ) di daerah pasuruan untuk dihibahkan bagi terwujudnya sekolah gratis yang sedang dirintis sahabat-sahabatku di LSM Peduli Pendidikan Indonesia.

Jujur, untuk beberapa saat aku tidak bisa memberikan nama untuk perasaanku saat itu,dan tidak lama berselang aku pun menyambut niatan mulia beliau sekaligus berjanji untuk segera melihat 3 pilihan lokasi yang beliau tawarkan.

Alhamdulillah,disela agenda keluar kota, tadi pagi aku masih bisa menyempatkan diri untuk melihat lokasi yang ditawarkan, tidak terlalu sulit untuk menemukan rumahnya, karena ternyata beliau adalah putri dari (almarhum ) seorang ulama yang cukup dihormati di desanya.

Ini kuketahui saat menanyakan rumah ibu Sunarsih ( ibu saudariku ini), kepada seorang bapak paruh baya, dan jawaban sang bapak yang cukup detail dan antusias menjelaskan tentang keluarga ini membuat akhirnya aku mengetahui sedikit "track record"-nya.

Pagi itu pun, akhirnya aku bisa berjumpa dengan ibu Sunarsih, wanita yang cukup ramah, pekerja keras,teguh, dan selintas membuatku membayangkan wajah ibuku.

Di rumah yang (cukup) sederhana, beliau membesarkan putri semata wayangnya, dengan berjualan kerupuk, hasil olahan tangannya.

Dan dari ibu Sunarsih aku sedikit mengetahui perjuangan putrinya hingga akhirnya bisa meneruskan pendidikannya di kampus yang sama denganku untuk menimba ilmu.

Cerita Bu Sunarsih cukup sukses membuatku menunduk dalam-dalam, malu rasanya membandingkan diriku dengan saudariku ini.

Di lain waktu, via chatting sengaja aku menanyakan ke saudariku ini, kenapa ia begitu saja percaya untuk menghibahkan tanahnya kepadaku, toh ia sendiri baru mengenalku.

" saya punya impian yang sama ...." salah satu jawaban lugasnya, dan setelahnya aku diam seribu bahasa, keluh rasanya..

Saudariku, jazakillah sudah mempercayaiku, moga impian itu segera terwujud, tiada yang bisa saya haturkan selain semoga ALLOH SWT membalas kebaikanmu, dan memudahkan jalan untuk meretas asa kita.

Darimu kami mendapatkan semangat, karenamu aku menyakini bahwa aku tidak sendiri dan banyak orang baik di negeri ini, kebaikan yang tidak bertendensi, orang-orang yang tidak selalu memampang dirinya di etalase sejarah layaknya pedagang kelontong yang selalu berhitung rugi- laba....

Terima kasih saudariku ......


Di sela- sela kepenatanku, 13 Juni 2007

Metamorfosis

Barangkali bukan karena nilai - nilai ideologi yang begitu rigid yang kemudian membuat seseorang terlalu gagap untuk menyikapi perubahan, namun hanya disebabkan ketidakmampuan diri untuk menghadapi dan bergumul dengan realitas.

Jika kemudian idealita adalah laksana cakrawala yang membumbung tinggi, maka diperlukan landasan jiwa yang cukup lapang untuk selalu menerima fakta bahwasanya realita tidak selalu ramah dan memenuhi permintaan agar takdir bersua dengan langit-langit mimpi.

Dimana ruang di antara langit-langit impian dan landasan realita, kita menamakannya "kelegowoan". Dan manusia sendiri hanyalah aktor yang selalu menjemput takdir dari satu terminal waktu ke persinggahan waktu berikutnya.

Waktu dan ruang hanyalah "perangkat adminstratif" kehidupan untuk menjadi parameter eksistensi aktor kehidupan ini.

Seberapa besar eksistensi seseorang hanyalah dikaitkan seberapa sesak ia memenuhi lorong-lorong waktu dan palagan kehidupan ini.

Sedangkan konsepsi waktu sendiri adalah konsepsi yang paling abstrak setelah konsepsi keyakinan akan keberadaan Tuhan. Hingga tidak mengherankan seorang ulama mengatakan waktu adalah sepertiga bagian dari struktur keimanan akan aturan-aturan ilahiyah.

Sama halnya dengan konsep ruang yang merupakan satu kosmologi yang utuh,tidak terpotong-potong, pun juga konsep waktu, yang tidak pernah bersekat dengan definisi-definisi masa lalu, sekarang dan masa depan.

Dan perubahan hanyalah semacam "limbah" dari proses produksi manusia untuk bergulat dengan jatah waktu yang sudah ditentukan untuknya.

Namun perubahan bukanlah fungsi hasil yang sebanding dengan ikhtiar, ia adalah nilai yang ditentukan keberkahan sebuah proses panjang perjuangan yang merupakan gabungan keikhlasan dan kesabaran.


Malang, di ujung senja, Agustus'07

Tuesday, August 07, 2007

Mitos

Prinsip dasar metode ilmu pengetahuan sejatinya (hanyalah) lingkaran berupa pendefinisian, klasifikasi, memformulasikan, untuk kemudian muncul kesimpulan - kesimpulan.

Dan dari keseluruhan fenomena di alam semesta yang melingkupi manusia, tidak seluruhnya bisa terdefinisikan, apalagi bisa dikotomikan untuk setelahnya dibuat sebuah postulat.

Namun fenomena yang masuk dalam "black box" itu sendiri bukan serta merta manusia tidak memiliki keyakinan akan hal tersebut.

Betapa banyak keyakinan kita adalah sebuah mitos, bahkan konon sebuah fenomena yang sudah berlabel "ilmiah" pun tidak terbebas dari wilayah"blank out".

Engkau boleh tidak percaya, namun cobalah engkau bertanya kepada orang paling pintar di dunia ini,berapa nilai dari sebuah angka ( bukan nol ) dibagi nol? dan jika jawabnya adalah bilangan tak hingga, maka kemudian tanyakan sekali lagi apakah mereka meyakini bilangan tak hingga ada? maka pasti jawabnya adalah :"ada".

Tapi kemudian mintalah mereka untuk memvisualisasikan berapa angka tak hingga, jika mereka kemudian garuk-garuk kepala, tidak ada yang salah dengan IQ mereka, hal ini hanya merupakan bukti mereka masih menyadari maqom-nya sebagai "manusia".

Ruang paling logis di otak kita, masih menyediakan apa yang disebut sebagai keimanan,sesuatu yang kemudian tidak lagi menuntut pengalaman empirik.

Tidak perlu gagap, rasanya adalah pilihan yang paling bijak, dengan memahami bahwasanya inderawi manusia begitu terbatasi oleh dimensi ruangdan waktu.

Manusia hanya menangkap dan membuat presepsi-presepsi berdasarkan sisi kognitif dan afeksi semata, cukup.

Dan pengetahuan bukanlah segalanya,jika motivasi darinya hanya untuk melegitimasi atau men-delegitimasi sesuatu tanpa sebuah kesadaran, pun juga jika keyakinan yang tidak akur dengan pengetahuan akan menjadi seperti perkataan seorang cendikia : " seperti berjalan di jalan setapak,semakin sering dilewati, maka semakin membersitkan keyakinan".

Anda tahu kawan? patut kita curiga jangan-jangan sikap "legowo" barisan orang-orang yang tertindas di setiap sudut bumi ini, adalah keyakinan yang berurat bahwa mereka adalah entitas independent dan korban relasi"sebab-akibat" interaksi personal mereka dengan alam, bukan sebuahkonstruksi sosial yang disengaja, yang menjadikan setiap penindasan itu begitu nampak suci......

Konyolnya, bisa jadi kita adalah barisan penindas itu, intelektual yang tidak menjadi penjaga gawang perubahan dan pembawa obor api kebajikan namun terlalu sibuk dengan isi perut sendiri....



Surabaya, pukul 02.05 dini hari,Agustus'07

Wednesday, May 30, 2007

Tafsir

Dunia kata adalah milik para pujangga sedang jagat simbol (hanya) dimiliki oleh para penafsir. Dan kemudian polarisasi klaim kebenaran sejatinya selalu berpijak pada dua poros yakni dzahiriah (dunia wadag, realisme) dan ta'wiliyah (metaforik,simbol,kiasan )

Tak perlu selalu memampang dahi berkerut, beberapa lipatan, untuk memahami sebuah realitas dengan maksud menangkap pesan tersembunyi di baliknya, pun juga tak perlu selalu percaya bahwa setiap kata adalah sebuah fakta, rasanya adalah sikap terbaik untuk kemudian kita tidak terjebak pada kadar yang melampaui batas memihak salah satu diantara klaim kebenaran tadi.

Kita sekarang berada di jaman yang standar sebuah fakta bukanlah representasi kata, juga kita sedang berpijak di era dimana tafsir sebuah realitas adalah kepentingan yang tidak jarang dipolitisasi atas nama norma, keyakinan.
Kita tidak se-goblok sang baginda raja dalam sebuah hikayat yang seketika terhenyak saat melihat tikus berukuran "jumbo" , sejurus kemudian bertanya kepada patihnya "kenapa ada tikus segede itu?",dengan entengnya sang patih menjawab "itu karena begitu makmurnya negeri ini hingga tikus pun begitu menikmati kemakmuran", dan sang baginda raja pun manggut-manggut puas.

Sama halnya dengan tidak perlu menguji kecerdasan kita, untuk menjawab dan menyimpulkan pertanyaan kenapa di negeri yang konon tongkat pun bisa jadi tanaman, tetapi banyak yang busung lapar, dan (terpaksa) makan nasi basi?

Tirakat,melestarikan kearifan lokal paling purba, atau barangkali orang-orang itu para puritan, pendeta, rahib yang senatiasa berpuasa?

Dan dongeng - dongeng penebar pesan untuk senantiasa bersabar atas penindasan ini, menjadi rabuk bagi tumbuh suburnya kekerdilan jiwa untuk melawan bagi para tiran.

Boleh engkau kelaparan, anakmu tak lagi harus berpendidikan, dan biarkan rumahmu tercabik-cabik bencana, dan engkau tak punya kuasa lagi untuk mengatasi segalanya. Tetapi engkau harus tetap hidup dengan sisa-sisa nyawa yang ada untuk yakin dan legowo menyaksikan bahwasanya para pemimpin yang saat ini lebih senang tebar pesona itu adalah para titisan dewa yang bisa menyelesaikan segala masalah.

Jika senyum adalah simbol kebahagiaan,ekspresi kemakmuran, maka negeri kita adalah negeri surga, lihatlah senyum puas para penguasa membodohi kita, senyum artifisial para pelacur mempertaruhkan nasibnya esok hari, hingga senyum kecut rakyat jelata akan masa depannya yang gelap, hitam.

Dan gelap sendiri adalah simbol kesunyian, kesahajaan, misteri, dan kebeningan jiwa. Bukankah Tuhan "turun" ke bumi,dan mendengar keluh tanpa tabir dari hamba-Nya, adalah di malam hari, pasangan dari kegelapan itu sendiri?

Surabaya, rintik hujan di akhir Mei 2007

Sunday, May 13, 2007

Simbol

"Kata adalah sepotong hati..." ucap seorang cendikia,dan ketika tidak semua maksud, hasrat dapat terwakili dengan kata, maka ijinkan aku menambahkan "potongan yang lainnya adalah dunia simbol, tafsir ...".

Jika kemudian budaya kita tidak lagi menganggap elegan teriakan lantang " Aku lelaki sejati ..." maka cukuplah dengan mengenakan jaket kulit hitam plus kacamata warna serupa, mengendarai moge (motor gede), dan tak lupa (sedikit) memampang wajah garang, maka berbanggalah, karena anda tak perlu harus berteriak seperti tukang bakso menjajakan dagangannya, untuk mengatakan betapa macho-nya diri anda.

" Aku memberontak, maka aku ada" ucap cendekia yang lain, menjadi legitimasi "penegasan eksistensi " untuk kemudian setiap entitas yang bercokol di muka bumi bernama manusia ini wajib menampakkan jati dirinya.

Dan kemudian kita menemui keragaman peran eksistensi itu sebagai sebuah keniscayaan yang kita beri nama potensi kekayaan budaya, seperti berpasangannya kebaikan dengan keburukan.
Ada jenis manusia yang selalu sibuk berganti dari satu topeng ke topeng yang lainnya,agar memenuhi kebutuhannya akan riuh rendah kekaguman.

Dan di belahan bumi yang lain ada jenis manusia yang dengan membusungkan dada seraya berkata : " Inilah aku, tanpa poles wajah, alergi topeng ...", sebuah kebanggaan untuk menunjukkan orisinalitas diri, mengatas namakan kejujuran.

Saat ini orang gandrung dengan sebuah acara talk show di televisi yang terkenal dengan jargonnya " kembali ke laptop", yang setiap tayangannya tidak pernah sepi mengumbar ungkapan-ungkapan sarkasme, bullying. Pun kemudian gegap gempita orang memuji segala tingkah polah tadi sebagai sebuah kejujuran, kepolosan, oase di tengah jumudnya orang-orang di negeri ini dengan segala kemunafikannya.

Dan kejujuran pun kini direpresentasikan sebagai kevulgaran.

Minimal ada dua alasan kita menyebut "kejujuran" ini sesuatu yang kebablasan :
Pertama, karena kaidah kejujuran sendiri tidaklah dengan mengekspresikan seluruh apa yang mengggelegak dalam jiwa kita.

Kedua, ada batas yang teramat tipis antara penegasan jati diri dan kesombongan, hingga bisa jadi "kejujuran" jenis ini menjadi justifikasi untuk terus berkubang dengan kesalahan yang diyakini sebagai ciri khasnya.

Sulit untuk menjaga keberimbangan antara bersikap tidak munafik dan tidak vulgar, sama sulitnya untuk menjadi manusia....

"Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda." salah satu kutipan di catatan Soe Hok Gie

Ungkapan skeptis? putus asa? atau sebuah bara semangat yang tersembunyi di balik sinisme?

Ah, tidak perlu berbuih kata untuk memperdebatkan, karena puluhan warga korban lapindo yang bertahan mogok makan pagi ini, lebih pintar untuk memahami apa itu kemunafikan dan bagaimana menghemat energi kesabaran dan harapan agar tak menguap sia-sia....

Surabaya, 13 Mei 2007

Thursday, April 19, 2007

Wanita, Jangan Menangis (Lagi)...

"Dari seluruh makhluk di permukaan bumi yang berdarah dan tumbuh, wanita yang paling banyak memarnya" kata seorang penyair Yunani berabad silam.

Bahwa diskursus gender telah terjadi sejak jaman dimana Tuhan telah menciptakan Hawa sebagai pendamping Adam dan pergesekan dari relasi antar gender ini menjadi ekses yang terus mengiringi pertumbuhan jaman.

Tanpa menampik bahwa penindasan tidak hanya (bisa) didominasi gender tertentu, namun kemudian kita patut untuk memberikan karangan bunga bela sungkawa bagi perjalanan sejarah hidup manusia, bahwa terlalu banyak darah dan airmata wanita yang menghiasi jalan sejarah ini.
Kekerasan dalam rumah tangga,human trafficking, pelecehan seksual adalah berderet derita yang menjadikan wanita sebagai korban.

Minimal ada tiga fase penyebab penindasan gender ini terjadi, pertama, fase dimana marginalisasi ini terbentuk secara "alamiah" dalam kompetisi paling primitif antar manusia untuk mempertahankan hidup. Kebodohan, barbarik, menjadi bumbu pelengkap pada fase ini.

Kedua, konstruksi sosial yang berlindung dibalik berbagai macam dalil de-interpretasi, atas nama Tuhan, maupun politisasi norma lainnya. "Wanita adalah jelmaan iblis" demikian dogma sebuah agama, dan semua penindasan pun tampak begitu suci

Ketiga,fase dimana wanita sudah berani tampil di ruang publik yang dahulu steril dari eksistensi mereka ,menggugat pengekangan fungsi dan posisi sosial mereka serta melakukan "perang terbuka", tetapi pada saat yang sama palagan ini membuka celah lebar mereka untuk (kembali) ditindas. Gerakan pembebasan yang pada akhirnya diakui sendiri oleh dedengkot feminis sebagai sesuatu yang kebablasan.

Terlepas dari semuanya, apakah para lelaki di muka bumi ini tidak lagi bisa mengisi setiap lorong bumi ini dengan cinta? apakah mitos bahwa level kejantanan (maskulinitas) yang dibangun dengan menyiapkan telaga nelangsa dari perasan darah dan airmata para wanita harus tetap kita jaga? Apakah keharmonisan antar gender ini tidak bisa dibangun berdasarkan porsi fitrah, kesetaraan bukan kesamaan, keadilan bukan kebebasan.......

Dan sebagai seorang manusia yang dilahirkan dari sebentuk ruang muara cinta bernama rahim wanita dengan segala kebaikannya, ijinkan aku berkata : " wanita, jangan menangis (lagi).... "


Kota Cinta, 18 April 2007